BGN Telusuri Dugaan Keracunan Makan Bergizi Gratis di Nabire
IVOOX.id – Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Papua Tengah menelusuri dugaan keracunan makanan yang dialami tujuh penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut.
Koordinator Wilayah BGN Nabire Marsel Asyerem mengatakan tujuh orang yang mengalami gejala gangguan kesehatan tersebut terdiri dari tiga guru dan empat siswa dari tiga sekolah yakni TK Gracia, SMP Negeri 7, dan SD Inpres Waharia.
“Ketujuh orang tersebut mengalami gejala yang sama yaitu diare, muntah dan pusing sehingga ada dugaan keracunan akibat bakteri,” ujarnya di Nabire, Sabtu (14/3/2026), dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan, ketiga sekolah tersebut merupakan bagian penerima layanan MBG dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lani.
SPPG Lani sendiri saat ini melayani 17 sekolah dengan total penerima manfaat sebanyak 1.892 orang yang terdiri dari siswa dan guru.
“Dari total 1.892 penerima manfaat tersebut, hanya tujuh orang yang dilaporkan mengalami gejala diare, muntah, dan pusing,” katanya.
Ia menjelaskan, ketujuh orang tersebut mengalami gejala yang sama pada Rabu (11/3), namun laporan baru disampaikan kepada BGN pada Jumat (13/3), sehingga pihaknya segera berkoordinasi dengan dokter untuk menangani pasien.
Berdasarkan pemeriksaan awal, dokter menemukan adanya bakteri yang diduga mengganggu sistem imun tubuh pasien. Namun demikian, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih belum dapat dipastikan.
“Dokter belum bisa memastikan apakah gejala tersebut disebabkan oleh makanan MBG atau faktor lain,” ujarnya.
Ia menambahkan untuk memastikan penyebabnya diperlukan uji laboratorium terhadap sampel muntahan pasien. Namun pemeriksaan tersebut tidak dapat dilakukan di Nabire dan harus dikirim ke laboratorium di Jayapura.
Ia menjelaskan dari tujuh orang yang mengalami gejala tersebut, tiga orang diketahui mengonsumsi makanan MBG di rumah karena makanan dibawa pulang, sementara empat orang lainnya mengonsumsi makanan tersebut di sekolah.
Padahal, makanan basah dalam program MBG seharusnya dikonsumsi langsung di sekolah dan tidak diperbolehkan dibawa pulang karena berpotensi basi.
Meski penyebab pasti kejadian tersebut belum diketahui, BGN telah melaporkan kasus tersebut kepada BGN pusat untuk dilakukan evaluasi terhadap dapur SPPG terkait.
Selain itu, pihaknya juga telah menginstruksikan seluruh dapur SPPG di Nabire untuk memperketat standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan guna mencegah kejadian serupa.
BGN juga memastikan seluruh penerima manfaat yang mengalami gejala keracunan tersebut mendapatkan penanganan medis yang baik.
Sebanyak lima orang yang sebelumnya dirawat di Klinik Rihensa kemudian dipindahkan ke Klinik Alfa Benedik Jaya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih optimal.
BGN juga menanggung seluruh biaya perawatan kelima pasien tersebut di Klinik Rihensa dengan total tagihan mencapai Rp9,84 juta.
“Setelah berkoordinasi dengan Kepala SPPG Lani dan mitra, lima pasien yang dirawat di Klinik Rihensa dipindahkan ke Klinik Alfa Benedik Jaya agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik,” katanya.
Berhasil Login.....
Gagal Login
Komentar
Edit Komentar
Hapus Komentar
Anda yakin ingin menghapus komentar ?