Mentan: Beras Alami Deflasi Meski di Masa Paceklik
IVOOX.id – Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman mengatakan komoditas beras alami deflasi di akhir semester kedua 2025 meskipun pada bulan-bulan paceklik. Menurutnya situasi ini sebagai perbaikan sistem produksi dan distribusi.
“Alhamdulillah, kami lihat beras, kita beras karena ini penyumbang deflasi paling besar. Beras itu kita lihat terjadi deflasi, sudah 2-3 bulan terakhir terjadi deflasi. Dan itu tidak pernah terjadi, kita lihat 7 tahun terakhir tidak pernah terjadi, di bulan paceklik, Oktober, November, Desember, kita lihat tetapi harga stabil,” ujar Amran dalam siaran pers dikutip, Jumat (12/12/25).
Amran menyampaikan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), beras pada konsumen mengalami deflasi beruntun sejak September hingga November dengan penurunan masing-masing 0,13 persen, 0,27 persen, dan 0,59 persen.
Pada minggu pertama Desember, harga beras medium turun 0,06 persen dan beras premium turun 0,15 persen dibanding November 2025. Kendati demikian, deflasi ini tidak mempengaruhi harga pada tingkat petani.
Tren penurunan harga beras ini menurutnya berjalan bersamaan dengan peningkatan produksi di sejumlah wilayah. Misalnya di Papua Selatan, luas panen mencapai 80.124 hektare pada 2025, meningkat 69,87 persen dibanding tahun sebelumnya.
Meski demikian, Amran menggambarkan tantangan distribusi beras di Papua masih membutuhkan upaya ekstra. Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah terus memperkuat produksi beras lokal untuk memenuhi kebutuhan Papua.
“Kami baru pulang dari Papua, karena Zona 3 itu Papua harga beras cukup tinggi, begitu kami ke lapangan, itu begitu berat medannya. Ada yang harus naik pesawat, bayangkan beras kirim pakai pesawat. Ada yang naik truk dan itu berhari-hari, tenggelam truknya,” ujarnya.
“Nah sekarang solusi permanen adalah kami sudah bicara seluruh Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Barat, Barat Daya, kami ketemu semua, kami kesana ketemu diskusi solusi permanen adalah kebutuhan beras di Papua 660 ribu ton. Kita penuhi baru 120 ribu ton, kita masih butuh 500 ribu ton. 500 ribu ton itu membutuhkan 100 ribu hektare. Insya Allah 2026 dan 2027 kita beresin,” kata Amran.
Berhasil Login.....
Gagal Login
Komentar
Edit Komentar
Hapus Komentar
Anda yakin ingin menghapus komentar ?