Sebelum Peluit Terakhir: Drama dan Pertanyaan tentang Sportivitas

04 Oct 2026

IVOOX.id – Sebelum peluit terakhir wasit, sepak bola selalu menyisakan kemungkinan.

Kamis malam, 1 Oktober 2026, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), kemungkinan itu menjelma menjadi sembilan gol, di mana kecemasan dan kegembiraan datang nyaris bersamaan.

Indonesia mengalahkan Bangladesh 9-2 dan merebut tiket final FIFA ASEAN Cup. Namun, siapa yang mengikuti pertandingannya tahu: ini bukan pesta yang sejak awal bisa dinikmati secara relaks berleha-leha. Tidak.

Ada saat ketika kemenangan besar pun terasa tidak cukup. Dari tribun hingga ruang-ruang teve keluarga, dari layar televisi, nobar hingga telepon genggam, publik mengikuti pertandingan yang meminta satu hal paling gregetan: tetap percaya padahal waktu hampir habis.

Pada jam yang sama, Malaysia menghadapi Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Di mata saya, suasananya terasa berbeda: pertandingan yang semestinya sarat tekanan justru tampak jauh lebih longgar.

Padahal, Singapura masih punya kepentingan nyata. Kemenangan akan membawanya melampaui Malaysia dan membuka jalan ke pertandingan perebutan tempat ketiga. Ada kesempatan berprestasi, rivalitas bertetangga, dan martabat tim nasional yang dipertaruhkan.

Karena itu, kekalahan 0–6 mengusik saya. Bagaimana pertahanan Singapura yang dikenal kokoh tapi kok bisa begitu mudah ditembus dalam pertandingan sepenting ini? Pertanyaan itu pantas diajukan, meskipun kesan seorang penonton belum merupakan bukti pengaturan pertandingan. Saya tidak bilang sepak bola gajah. Apalagi main sabun. Tidak. Saya hanya curiga, boleh dong..

Keraguan tersebut mempunyai pembanding konkret. Pada 8 Agustus, Singapura menahan Indonesia 1-1 sekaligus menyingkirkan Garuda dari ASEAN Hyundai Cup. Sepuluh hari kemudian, mereka bahkan menang 2-1 atas Thailand di Bangkok pada leg kedua semifinal, meskipun tetap tersingkir dengan agregat 3-4.

Tim yang belum lama menunjukkan ketahanan seperti itu kini kebobolan enam kali tanpa balasan. Perubahan tersebut layak dijelaskan: apakah karena mutu lawan, komposisi pemain, kelelahan, keputusan taktis, atau runtuhnya mental setelah tertinggal?

Bagi saya, federasi tidak cukup hanya mengatakan "itulah sepak bola". Namun, menyebutnya "main sabun" atau "sepak bola gajah" sebagai kesimpulan juga membutuhkan bukti yang belum tersedia.

Laporan pertandingan yang dimuat Malay Mail mencatat Singapura sempat mengancam melalui Song Ui-young pada menit ke-14 dan Kyoga Nakamura enam menit kemudian; keduanya digagalkan penjaga gawang Malaysia. Penalti pembuka juga melibatkan pemeriksaan VAR, bantuan video bagi wasit.

Jadi, mengatakan Singapura sama sekali tidak melawan atau pertandingan sepenuhnya tanpa ketegangan, bagi orang Malaysia, tuduhan itu lebai. Skor besar tidak otomatis berarti curang, sebagaimana pertandingan keras tidak otomatis menjamin fair play (permainan jujur dan sportif). Ukurannya ialah kesungguhan bertanding dan kepatuhan pada aturan, bukan banyaknya benturan atau pertengkaran.

Karena itu, posisi saya tegas: Federasi Sepak Bola Malaysia dan Asosiasi Sepak Bola Singapura patut membuka evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan. PSSI dapat meminta penjelasan kepada penyelenggara; AFF, AFC, dan terutama FIFA perlu berkoordinasi sesuai kewenangannya untuk memeriksa apabila terdapat indikator manipulasi.

Rekaman utuh, keputusan taktis, laporan wasit, pola permainan, dan pemantauan taruhan harus dibaca bersama. Jika muncul petunjuk konkret, lanjutkan dengan penyelidikan mendalam.

FIFA sendiri memiliki sistem pemantauan serta saluran pelaporan dugaan pengaturan pertandingan. Pemeriksaan bukan vonis bersalah. Ia melindungi peserta yang jujur sekaligus memastikan tim lain tidak dirugikan oleh kesepakatan di luar lapangan. Gitu aja.

Sejarah menunjukkan kecurangan memang dapat dibongkar melalui pembuktian. Skandal suap Marseille-Valenciennes pada 1993 berujung pencabutan gelar liga Prancis Marseille, larangan mempertahankan gelar Liga Champions, dan degradasi pada tahun berikutnya.

Pada level tim nasional, FIFA memerintahkan pengulangan laga kualifikasi Piala Dunia Afrika Selatan-Senegal yang dimainkan November 2016, setelah hukuman larangan seumur hidup terhadap wasit Joseph Lamptey karena manipulasi pertandingan dikuatkan Pengadilan Arbitrase Olahraga. Dua kasus itu memperlihatkan bahwa integritas dapat dilukai oleh berbagai pelaku.

Kembali ke GBK. Catatan AFF menempatkan Mitchell Baker sebagai pencetak dua gol pembuka pada menit ke-11 dan ke-20, disusul Rizky Ridho pada menit ke-32. Setelah Bangladesh membalas melalui Shahriar Emon, Baker kembali mencetak gol pada menit ke-37 dan ke-42.

Justin Hubner menutup babak pertama pada menit ke-45+1: Indonesia unggul 6-1. Urutan berikutnya menentukan seluruh cerita: Luke Vickery pada menit ke-90 membawa skor menjadi 7-1; Farhaan Ali Wahid membalas menjadi 7-2; Kevin Diks mencetak gol kedelapan pada menit ke-90+6; dan Baker memastikan 9-2 pada menit ke-90+7. Lima gol Baker adalah sumbangan yang luar biasa.

Tetapi angka-angka itu tidak cukup menggambarkan betapa sesaknya menonton babak kedua. Indonesia menyerang, waktu berjalan, dan gol yang ditunggu tidak segera datang.

Pemeriksaan VAR atas pelanggaran Elkan Baggott memunculkan kecemasan akan kartu merah. Gol Ole Romeny pada menit ke-83 kemudian dianulir karena offside (posisi melampaui batas yang dibolehkan). Harapan sempat terangkat, lalu dijatuhkan lagi. Di depan meja makan, istriku menegur suara marahku menggebrak meja mengagetkannya.

Saya sempat pasrah ketika skor menunjukkan 7-2 dan hasil 6-0 Malaysia sudah menjadi patokan. Menang sebesar itu masih bisa berarti tersingkir. Hitungannya kejam: sebelum laga terakhir, Indonesia memiliki selisih gol +2, sedangkan Malaysia +3. Kemenangan enam gol membuat Malaysia menutup grup dengan +9; pada kedudukan 7-2, Indonesia baru +7. Bahkan 8-2 belum cukup.

Indonesia membutuhkan 9-2 untuk menyamai selisih gol +9, lalu unggul dalam jumlah gol yang dicetak: 11 berbanding sembilan. Kedua tim sama-sama mengumpulkan tujuh poin. Jadi, dua gol terakhir itu bukan tambahan pemanis kemenangan. Keduanya adalah syarat untuk bertahan dalam perebutan gelar. Mutlak!

Dalam kepasrahan itu, saya melihat sesuatu yang membuat malu kegamangan diriku: para pemain belum menyerah. Elkan, Diks, Romeny, Dean, Hubner dan kawan-kawan terus bergerak, seolah menolak mengakui pertandingan selesai sebelum wasit mengatakannya.

Saya pernah menjadi manajer tim nasional senior, meskipun hanya setahun. Pengalaman itu membuat saya menghargai betapa sulit menjaga kepala tetap jernih ketika harapan menipis.

Malam itu, para pemain melakukannya. Elkan membantu lahirnya gol Diks, lalu umpan Romeny mengantar Baker mencetak gol penentu. Romeny pantas dipuji sebagai penggerak serangan dan pemasok umpan, sementara Baker menjadi penyelesainya. Pada saat paling genting, keduanya mengubah kesempatan terakhir menjadi jawaban.

Ingatan saya melayang ke 13 Mei 2012, ketika Manchester City menghadapi Queens Park Rangers dalam penentuan gelar Liga Inggris. Manchester United sudah menuntaskan tugasnya melawan Sunderland, sementara City masih tertinggal 1–2. Maaf, saya fan City. Edin Džeko menyamakan kedudukan pada masa tambahan waktu, lalu Sergio Agüero mencetak gol pada menit 93 lewat 20 detik dan membalikkan nasib gelar.

Pada final Liga Champions 1999, United sendiri pernah melakukan keajaiban serupa terhadap Bayern München. Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjær mengubah kekalahan 0-1 menjadi kemenangan 2-1 melalui dua gol pada masa tambahan waktu.

Dua panggung berbeda itu mengajarkan pelajaran yang kembali hidup di GBK: peluang tidak selesai hanya karena penontonnya telanjur menyerah.

Di layar yang saya ikuti, rumput GBK juga menjadi ajang adu mulut dan dorong-dorongan. Bahkan setelah pertandingan berakhir. Itu menunjukkan emosi yang meluap, tetapi bukan bagian yang patut diteladani. Yang layak dirayakan ialah ketekunan mengejar gol melalui permainan, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kemampuan bangkit setelah keputusan yang mengecewakan.

Permainan keras yang sah dapat diterima; kekerasan tetap harus ditindak, siapa pun pelakunya. Bila kita meminta lawan menjunjung sportivitas, tuntutan yang sama harus berlaku terhadap pemain kita sendiri. Nasionalisme tidak membebaskan siapa pun dari aturan. Wajib itu.

Besarnya kegembiraan ini dapat dipahami jika melihat tempat sepak bola dalam kehidupan Indonesia. Di Indonesia, ada estimasi sekitar 165,48 juta penggemar sepak bola; angka tersebut menunjukkan luasnya minat. GoodStats menjelaskan bahwa estimasi yang dikutipnya berasal dari Country Cassette, sehingga angka itu sebaiknya diperlakukan sebagai perkiraan saja, jangan lebih.

Teriakan saya beberapa kali tertahan, marah pada yang tampak di layar, lalu kegembiraan yang pecah ketika gol terakhir datang. Kegembiraan tersebut tetap harus menyisakan ruang untuk ingatan dan evaluasi.

Era John Herdman belum bebas dari kekecewaan. Pada Agustus, Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam lalu tersingkir setelah ditahan Singapura 1-1.

Namun, konteks pemain tersedia juga perlu diperhitungkan. Sebab, turnamen di luar jeda internasional tidak memberikan jaminan pelepasan pemain yang sama dari klub. FIFA menegaskan bahwa FIFA ASEAN Cup berlangsung dalam jendela internasional September–Oktober, yang memungkinkan tim menghimpun pemain terbaik dari berbagai negara.

Saya bersimpati kepada Herdman dan berharap ia berhasil, sambil tetap menuntut perbaikan permainan serta hasil. Kemenangan dramatis ini patut disyukuri, tetapi final masih menunggu dan euforia tidak boleh menghabiskan tenaga maupun kewaspadaan.

Thailand membawa ingatan yang tidak ringan. Dalam rentang 10 tahun terakhir, Indonesia kehilangan gelar pada final AFF 2016 dan edisi 2020 yang berakhir pada Januari 2022, masing-masing kalah agregat 2-3 dan 2-6.

Penantian panjang itu juga perlu disebut secara tepat. Ungkapan "18 tahun tanpa trofi" merujuk timnas putra senior sejak Piala Kemerdekaan 2008, bukan seluruh tim nasional Indonesia di semua kelompok umur. Yang kita nantikan sekarang ialah berakhirnya puasa gelar senior sekaligus lahirnya keyakinan bahwa tim ini mampu menuntaskan pekerjaan pada pertandingan terakhir.

Mengapa 11 pemain dapat mengguncang perasaan begitu banyak orang? Eric Hobsbawm, sejarawan Inggris dan profesor di Birkbeck, University of London, menulis: "Komunitas terbayang (imagined community) dari jutaan orang terasa lebih nyata sebagai sebuah tim beranggotakan sebelas orang yang memiliki nama."

Kalimat itu menjelaskan bagaimana bangsa yang begitu besar menemukan wajah yang dapat dikenali di lapangan. Kita boleh berbeda etnis, daerah, agama, pekerjaan, dan pilihan politik. Ketika Garuda menyerang, untuk sesaat perbedaan itu seperti mengambil tempat di belakang. Diks, Elkan, Ridho, dan rekan-rekannya menjadi pembawa harapan bersama.

Epiktetos mengingatkan bahwa kesulitan memperlihatkan watak manusia. Di lapangan, watak itu terlihat ketika kaki masih berlari sementara penonton sudah kehilangan harapan. Di luar lapangan, watak kita juga diuji: sanggupkah mencintai tim sendiri tanpa memfitnah lawan, dan mengkritik pelatih tanpa menghapus seluruh kerjanya?

Kepahlawanan olahraga tidak memerlukan kebencian kepada bangsa lain. Nasionalisme yang matang justru membuat kita lebih keras menjaga kejujuran, termasuk ketika kejujuran itu meminta kita mengoreksi kesan dan ingatan sendiri.

Kini, Senin, 5 Oktober, menunggu Indonesia melawan Thailand di final. Akankah "Senin keramat" itu mengakhiri penantian atau tetap dalam kutukan? Akankah sepak bola memberi hadiah bersama bagi negeri yang penduduknya kini berjumlah sekitar 287,2 juta jiwa?

Di bawah Presiden Prabowo Subianto, harapan menuju panggung dunia memang telah dinyatakan terang. Pada 17 Maret 2025, ia mengatakan, "Indonesia harus masuk piala dunia. Itu tekad kita."

Dukungan tersebut memperoleh arah yang lebih konkret ketika Prabowo menerima Ketum PSSI Erick Thohir dan Coach Herdman pada 19 Juni 2026, membahas pengembangan timnas serta persiapan menuju Piala Dunia 2030.

FIFA ASEAN Cup dapat menjadi bagian dari proses panjang itu: menguji kedalaman pemain, ketahanan mental, dan kemampuan memenangkan laga penentu. Turnamen ini bukan jalur kualifikasi langsung ke Piala Dunia. Nilainya terletak pada apa yang dipelajari dan dibangun untuk menghadapi persaingan yang lebih berat.

Jika menang pada Senin nanti, kita syukuri sepenuh hati. Jika belum berhasil, evaluasi tetap wajib dilakukan dengan ukuran yang proporsional, logis, rasional, dan objektif. Jangan serta-merta menjadikan Herdman atau pemain sasaran pelampiasan apabila mereka sudah mengerahkan kemampuan terbaiknya.

Insan sepak bola Indonesia perlu naik kelas bersama timnya: berani menuntut prestasi, teliti memeriksa kejanggalan, dan adil menilai kekalahan. Skor 9-2 telah mengajarkan bahwa harapan mesti diperjuangkan sampai detik terakhir. Setelah peluit berbunyi, yang harus tetap hidup adalah akal sehat dan sportivitas. Menurut Anda, bung!?

 

Penulis: Ramadhan Pohan

Jurnalis, pengajar, mantan manajer Timnas Senior PSSI 2012

Sumber: Antara

Komentar

Berhasil Login.....

Gagal Login

Back to Top

Komentar berhasil di tambah

Komentar berhasil di Edit

Komentar berhasil di Dihapus

Anda Harus Login

Tidak Boleh Kosong